Our social:

Latest Post

Senin, 01 Februari 2016

Jokowi Sambut PM Hungaria di Istana Kepresidenan

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menerima kunjungan kehormatan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Kedatangan PM Hungaria itu disambut guyuran yang terjadi siang ini.

‎Kendati cuaca diselimuti hujan, namun upacara penyambutan kenegaraan terhadap PM Orban tetap dilaksanakan. Yang membedakan, upacara yang biasanya digelar di Halaman depan Istana Merdeka, kali ini untuk menghindari hujan, upacara digelar di teras Istana Merdeka.

Pantauan Liputan6.com, PM Orban tiba di Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara sekitar pukul 11.10 WIB. Jokowi yang telah menunggu di pelataran Istana Merdeka langsung menyambut PM Orban dan mengajak Viktor untuk menuju teras depan Istana Merdeka guna mengikuti upacara penyambutan.

Upacara diawali iringan lagu kebangsaan kedua negara dan bunyi dentuman meriam sebanyak 21 kali. Dentuman meriam merupakan bagian dari penyambutan tamu negara setingkat kepala negara.

Setelah mengikuti prosesi tersebut, pemimpin kedua negara itu melakukan jajar kehormatan, d‎iiringi korps musik dari Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Kemudian masing-masing memperkenalkan satu per satu para menteri atau pejabat yang hadir dan langsung ‎masuk ke dalam Ruang Kredensial Istana Merdeka untuk melakukan pertemuan.

Tampak Menteri Kabinet Kerja yang mendampingi Jokowi yakni Menlu Retno LP Marsudi, Mensesneg Pratikno, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Mendag Thomas Lembong, Menteri ESDM Sudirman Said, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Seskab Pramono Anung. Kapolri Jenderah Badrodin Haiti dan Jaksa Agung HM Prasetyo.

‎PM Hungaria datang bersama 5 menterinya. Yaitu Menteri Luar Negeri dan Perdagangan, Menteri Pertanian, Menteri Ekonomi, Menteri Pembangunan Nasional, dan Menteri Negara untuk Pendidikan Tinggi.

Selain itu, turut bersama PM Hongaria sekitar 47 pengusaha yang bergerak di bidang keuangan, energi, perhotelan, manufaktur, dan perkereta-apian.

Dalam pertemuan PM Orban dengan Jokowi, topik yang akan dibahas antara lain peningkatan kerja sama di bidang ekonomi digital, energi terbarukan, pengelolaan air (water management), serta perdagangan dan investasi.

Dua dokumen kerja sama (memorandum of understanding/MoU) akan ditandatangani dalam pertemuan tersebut. Yakni di bidang perikanan dan budi daya serta bidang program pertukaran pendidikan tinggi. Kedua pemimpin juga akan membahas upaya yang berkontribusi terhadap perdamaian serta stabilitas kawasan dan dunia.

PM Orban pada Senin ini juga dijadwalkan menghadiri pertemuan Indonesia dan Hungarian Business Forum untuk menggali potensi ekonomi kedua negara.

Forum bisnis itu akan menghasilkan sejumlah proyek kerja sama di bidang water management, kesepakatan antara kedua kamar dagang, dan kerja sama kantor berita.‎(sumber)

HomeNewsPeristiwa Bertemu Jokowi, PM Hungaria Boyong Hampir Seluruh Menterinya

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) akan menyambut Perdana Menteri (PM) Hungaria Viktor Orban yang berkunjung ke Indonesia. Upacara penyambutan resmi PM Viktor Orban dan istri, Aniko Levai, digelar di Istana Merdeka Jakarta, Senin ini.

Setelah upacara penyambutan, acara dilanjutkan dengan pertemuan bilateral antara delegasi Republik Indonesia dan Hungaria.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengatakan kunjungan PM Viktor Orban bertujuan memperkukuh kerja sama ekonomi kedua negara.


"Indonesia harapkan kunjungan PM Hungaria akan meningkatkan kerja sama ekonomi sebagai realisasi dari diplomasi ekonomi RI yang merupakan prioritas ketiga politik luar negeri RI," kata Menlu Retno dikutip dari Antara, Senin (1/2/2016).

Rencananya, PM Hungaria datang bersama 5 menterinya, yaitu Menteri Luar Negeri dan Perdagangan, Menteri Pertanian, Menteri Ekonomi, Menteri Pembangunan Nasional, dan Menteri Negara untuk Pendidikan Tinggi. Selain itu, turut bersama PM Hongaria sekitar 47 pengusaha yang bergerak di bidang keuangan, energi, perhotelan, manufaktur, dan perkeretaapian.

Dalam pertemuan PM Orban dengan Jokowi, topik yang akan dibahas antara lain peningkatan kerja sama di bidang ekonomi digital, energi terbarukan, pengelolaan air (water management), serta perdagangan dan investasi.

Dua dokumen kerja sama (memorandum of understanding/ MoU) akan ditandatangani dalam pertemuan tersebut, yakni di bidang perikanan dan budi daya serta bidang program pertukaran pendidikan tinggi. Kedua pemimpin juga akan membahas upaya yang berkontribusi terhadap perdamaian serta stabilitas kawasan dan dunia.

PM Orban pada Senin ini juga dijadwalkan menghadiri pertemuan Indonesia dan Hungarian Business Forum untuk menggali potensi ekonomi kedua negara.

Forum bisnis itu akan menghasilkan sejumlah proyek kerja sama di bidang water management, kesepakatan antara kedua kamar dagang, dan kerja sama kantor berita.

Sementara itu, sebelum pertemuan kedua pemimpin negara, Menlu Hungaria Peter Szijjarto akan bertemu Menlu Retno, antara lain membahas berbagai isu tertunda dalam kerja sama bilateral serta isu-isu kawasan dan internasional yang menjadi perhatian kedua negara.

Hungaria merupakan negara mitra dagang terbesar Indonesia ketujuh di kawasan Eropa Tengah dan Timur. Total perdagangan kedua negara pada tahun 2014 sebesar 149,29 juta dolar AS dengan surplus bagi Indonesia US$24,45 juta.

Produk ekspor unggulan Indonesia adalah perlengkapan listrik dan elektronik, peralatan navigasi, dan produk untuk pengepakan. Di bidang investasi, Hungaria menanamkan modal 0,5 juta dolar AS pada tahun 2014 untuk dua proyek di bidang pariwisata.

Dalam sektor pariwisata, jumlah wisatawan Hungaria ke Indonesia juga terus meningkat, tepatnya sekitar 18 persen dari 5.232 orang (2012) menjadi 6.392 (2014).(sumber)

Bertemu Jokowi, PM Hungaria Boyong Hampir Seluruh Menterinya

Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban menemui Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta. Orban membawa hampir semua menterinya dan puluhan pengusaha saat bertemu dengan Jokowi.

Jokowi pun mengatakan, kunjungan PM Viktor Orban merupakan sebuah kehormatan bagi Pemerintah Indonesia.

"Kehormatan bagi Indonesia ‎menerima Perdana Menteri dan delegasi. Kunjungan ini merupakan kunjungan tunggal PM Orban ke luar negeri dan diikuti hampir seluruh anggota kabinet disertai 50 pengusaha. Hal ini menunjukkan komitmen Hungaria untuk memperkokoh hubungan Indonesia dengan Hungaria," ujar Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (1/2/2016).

Jokowi menyampaikan, dalam pertemuan bilateral itu telah disepakati beberapa bidang kerjasama. Di antaranya bidang ekonomi, teknologi informatika dan pengelolaan air bersih.
‎
"Ada beberapa‎ hal dibahas dan akan segera dikerjasamakan, yang pertama di bidang pengelolaan air, kerja sama yang sudah dirintis di antaranya proyek pengelolaan air di Indonesia, energi di bidang energi terbarukan," ucap Jokowi.

Selain itu, Jokowi juga menyambut langkah Hungaria yang telah memutuskan untuk berinvestasi dibeberapa daerah di Indonesia. Salah satunya di wilayah Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

"Di Tapanuli Utara salah satunya, lalu juga kerjasama di bidang pertanian. Beberapa kerjasama itu menjadi ‎fokus yang akan kita segera kerjakan dan kita berharap dari pertemuan ini nantinya kerjasama antara kedua negara akan lebih baik," ujar Jokowi.‎

Hungaria merupakan negara mitra dagang terbesar Indonesia ketujuh di kawasan Eropa Tengah dan Timur. Total perdagangan kedua negara pada tahun 2014 sebesar US$149,29 juta dengan surplus bagi Indonesia US$24,45 juta.

Produk ekspor unggulan Indonesia adalah perlengkapan listrik, elektronik, peralatan navigasi, dan produk untuk pengepakan. Di bidang investasi, Hungaria menanamkan modal US$0,5 juta pada tahun 2014 untuk 2 proyek di bidang pariwisata.

Dalam sektor pariwisata, jumlah wisatawan Hungaria ke Indonesia juga terus meningkat, yaitu sekitar 18 persen dari 5.232 orang pada 2012 menjadi 6.392 pada tahun 2014.‎(sumber)

Usul Fadli Zon ke Jokowi Terkait Pembangunan Kereta Cepat

Pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sepanjang 142,3 kilometer telah dimulai. Namun, proyek yang diresmikan pembangunannya pada Kamis 21 Januari 2016 itu masih menuai pro dan kontra.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon salah satu orang yang tidak setuju dengan pembangunan ini. Politikus Gerindra tersebut mengatakan sejak awal proyek pembangunan kereta cepat ini tidak jelas dikarenakan tidak begitu diperlukan.

"Saya melihat sejak awal memang (kereta cepat) sangat tidak jelas karena berdasarkan studi yang dilakukan oleh staf kepresidenan memang tidak layak karena kita tidak lihat urgensinya," ungkap Fadli Zon di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (1/2/2016).

Menurut dia, Indonesia sudah punya kereta dari PT KAI untuk ke Bandung. Adapula jalan bebas hambatan Cipularang.

Dia menilai seharusnya pemerintah menghentikan proyek kereta cepat ini. Mumpung, lanjut dia, persiapannya belum dijalankan.

"Seharusnya pemerintah menghentikan kereta cepat karena persiapannya belum jalan. Jelaskan dulu kereta cepat ini untuk siapa, apakah untuk masyarakat atau untuk siapa," ucap Fadli.

Menurut dia, Presiden Joko Widodo akan salah jika tetap melakukan proses pembangunan kereta cepat ini.

"Presiden salah kalau menabrak aturan yang dibuat oleh negara. Presiden juga punya kesamaan di mata hukum. Dan walau pun ini perintah presiden, enggak boleh nabrak-nabrak peraturan yang ada. Rakyat saja disuruh taat peraturan," kata Fadli.

Presiden Jokowi telah menegaskan proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung masuk ke dalam proyek infrastruktur strategis nasional. Proyek ini juga tertuang dalam Lampiran Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional yang telah ditandatanganinya pada 8 Januari 2016.

"Kereta cepat Jakarta-Bandung adalah bagian dari rencana besar kita menghubungkan kota-kota besar di Jawa dan luar Jawa," tulis Presiden Jokowi melalui akun Twitternya @jokowi, Kamis 28 Januari 2016.

Presiden menegaskan, kereta api merupakan masa depan transportasi massal di Indonesia. Karena itu, kota-kota yang padat penduduknya harus sudah menggunakan moda transportasi ini.(sumber)

Jokowi Dijadwalkan Hadiri ASEAN-US Summit di Amerika

Presiden Joko Widodo atau Jokowi akan kembali bertolak ke Amerika Serikat untuk menghadiri ASEAN-US Summit yang digelar di Sunnyland, Rancho Mirage, California, Amerika Serikat.

"‎Agendanya nanti tanggal 15-16 Februari akan ada ASEAN-US Summit di Sunnyland. Nanti kita konsultasikan kepada Presiden," ujar Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, (1/2/2016).

‎Menurut Retno, forum ASEAN-US Summit merupakan pertemuan penting yang membahas hubungan antara Amerika Serikat dengan negara-negara ASEAN. Terlebih, saat ini ASEAN telah memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang dimulai pada awal 2016 lalu.

"Jadi, ‎ASEAN-US Summit karena tahun kemarin Oktober atau November kita negara-negara ASEAN dengan US memiliki kemitraan yang baru, strategic partnership, kita memiliki plan of action sampai 2020," ucap Menlu.

Mengenai agenda apa saja yang akan dikuti oleh Jokowi, dia mengaku hingga kini masih membahasnya. Termasuk apakah akan ada agenda pertemuan antara Jokowi dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

"Insya Allah Presiden akan hadir, ‎kita sedang bahas intinya, detail programnya nanti kita sampaikan," pungkas Retno. ‎

Sebelumnya, Presiden Jokowi dan sejumlah menteri Kabinet Kerja telah melakukan kunjungan kerja ke Washington DC, Amerika Serikat pada akhir Oktober 2015 lalu. Dalam kunjungan tersebut, Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Barack Obama.(sumber)

okowi Bakal Putuskan Blok Masela Setelah Bertemu Investor

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memanggil beberapa menteri dan pejabat terkait untuk membahas keputusan pengelolaan blok gas Masela yang terletak di Maluku, Nusa Tenggara Timur pada Senin (1/2/2016) sore.

Jokowi menekankan kepada para menteri dan pejabat lainnya untuk tetap mengutamakan manfaat untuk wilayah dan masyarakat di daerah dalam pemberdayaan gas alam di Masela tersebut.

"Saya ingin tekankan, amanat konstitusi yang menyatakan secara tegas dan jelas bahwa pemanfaatan sumber daya alam itu harus untuk rakyat dan semua orang, bukan segelintir orang," kata Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (1/2/2016).

Tidak hanya itu, keputusan tersebut harus mendukung program pemerintahan dimana membangun ekonomi dari daerah melalui berbagai potensi sumber daya yang ada di masing-masing wilayah.

Namun, Jokowi menyatakan bahwa keputusan apakah blok tersebut akan menggunakan teknologi tengah laut (offshore) atau di darat (onshore) belum akan dilakukan saat ini.

"‎Sebelum saya masuk ke darat atau laut, saya mau ketemu dulu dengan investor kontraktornya. Kalau belum itu, saya tidak akan putuskan," tegas Jokowi.

Seperti diketahui, keputusan mengenai pembangunan kilang gas ini sempat menimbulkan dualisme antar menteri. Menteri ESDM lebih cenderung ingin membangun di laut lepas, namun Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman ingin kilang gas tersebut dibangun di darat.

Belum adanya keputusan dan banyaknya konflik di pemerintahan tersebut sempat membuat investor di blok tersebut cemas. Kedua investor tersebut yaitu Inpex dan Shell. (Yas/Gdn)(sumber)

Indonesian President Jokowi to Make yet Another Visit to U.S

The United States has always attempted to maintain a desirable relationship with its ASEAN counterpart which include ten of its member states. With countries within Southeast Asian region economically becoming strong, it is deemed vital for the U.S to make continuous effort to protect the tie as it is predicted that Indonesia with its 240 million population will soon play a much more prominent role as Asian economic powerhouse, as cited in asean-bp.com.

The actualization of such desire continues to take place especially with the imminent ASEAN-US Summit in Sunnyland, Rancho Mirage, California in February 15-16 2016.

Indonesian Foreign Minister Retno LP Marsudi informs that President Joko ‘Jokowi’ Widodo is due to make yet another state visitation to the U.S to represent the archipelago state during the summit which will be held in two weeks time.

“President Jokowi is planning to attend ASEAN-US Summit in Sunnyland on February 15-16 2016,” Minister Retno said, Jakarta, Monday (1/2/2016).

According to Retno, the Summit is viewed to be an important event which serves as the platform where the strengthening of relation between U.S and ASEAN nations is done intensively. The relationship between U.S and each of ASEAN nations are also one of the many subjects which will be discussed further. ASEAN countries are now in their venture to adjust into the ASEAN Economic Community era where official commencement was at the beginning of this year.

“Member countries of ASEAN made a significant pact with the U.S back in October. This positions the U.S as a strategic partner to the ten states of ASEAN. We have a plan of action which has been activated through to the year 2020,”she explained.

President Jokowi, together with a number of his ministers have previously visited the U.S in October 2015 to conduct bilateral meeting with U.S President Barack Obama.(sumber)